Hujan Masih Menyapa Bangkalan, Droping Bantuan Air Bersih Tertunda, BPBD : Potensi Kemarau Basah

www.peristiwaJatim.com.ǁBangkalan,17 Mei 2026-Di tengah kegiatan pemetaan kawasan rawan bencana kekeringan hingga persiapan distribusi air bersih, hujan dengan intensitas sedang-tinggi masih mengguyur sejumlah daerah di Kabupaten Bangkalan pada Sabtu (16/5/2026) malam.

Bahkan awan mendung masih terpantau menyelimuti langit Kecamatan Socah, Kecamatan Tanah Merah, dan Kecamatan Kota hingga menjelang siang, Minggu (17/5/2026).

Dalam satu bulan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan telah menetapkan sebanyak 29 desa prioritas penerima bantuan air bersih yang tersebar di enam kecamatan; Konang, Tanah Merah, Kokop, Geger, Arosbaya, dan Kecamatan Sepulu.

Kepala Pelaksana BPBD Bangkalan, Moh Zainul Qomar melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Arif Rahman Surya Atmaja mengungkapkan, hingga bulan ini belum ada tambahan jumlah desa peneriman bantuan air bersih dari pihak kecamatan.

“Kegiatan droping bantuan air bersih juga masih menunggu surat dari kecamatan untuk titik penerimanya. Kalau hujan masih turun, ketersediaan air masih mencukupi,” ungkap Arif kepada Tribun Madura.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Perak Surabaya pada Bulan April 2026 memprediksi musim kemarau mulai melanda sejak Mei-Juni dengan puncaknya terjadi pada Juli-Agustus dan berakhir[ada September-Oktober 2026.

Prakiraan itu kemudian direspon BPBD Bangkalan dengan melakukan pemetaan kawaaan rawan bencana kekeringan hingga terdata sebanyak 29 desa di enam kecamatan, berdasarkan usulan dari masing-masing pihak kecamatan.

Namun hingga memasuki pekan ketiga di bulan Mei ini, droping bantuan air bersih belum terealisasi karena curah hujan masih membasahi Kabupaten Bangkalan meski frekuensinya mulai berkurang.

Ari menjelaskan, beberapa daerah di Jawa Timur telah melakukan droping bantuan air bersih karena karena memasuki musim kekeringan.

Salah satunya Kabupaten Bondowoso yang telah mendsitribusikan bantuan air bersih ke 13 desa dengan total 7.136 warga terdampak.

“Tetapi Bangkalan belum, tadi malam masih hujan sehingga sumber mata air masih ada. Bisa jadi kemarau basah lagi, musimnya kemarau tetapi masih ada curah hujan. Cuaca panas menyengat tetapi hujan masih turun dengan intensitas yang lebih sedikit,” jelas Arif.

Jawa Timur Siaga Hujan Lebat

Tidak menentunya peralihan musim hujan ke musim kemarau pada tahun ini disebut Arif disebabkan karena posisi monsun Autralia yang melemah serta banyaknya sirkulasi siklonik yang terpantau BMKG dalam sepekan ke depan, periode 16-22 Mei 2026.

“Posisi Monsun mengarah ke Timur kemudian didirong lagi ke Barat mengikuti pergerakan angin yang tidak teratur. Kalau kemarau, anginnya mengarah ke Barat, sementara kalau hujan mengarah ke Timur semua,” papar Ari.

Dalam sepekan ke depan, lanjutnya, potensi hujan yang disebabkan banyaknya sirkulasi siklon akan menerjang sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan Jawa Timur termasuk kawasan dengan status siaga hujan lebat hingga sangat lebatbersama Bengkulu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

“Termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua,” pungkas Arif.

Daun Padi Menguning, Warga Diserang Batuk

Gerah, terik panas matahari, dan tiba-tiba hujan lebat-sedang kerap mewarnai ketidakstabilan masa pancaroba di Kabupaten Bangkalan.

Kondisi tersebut diduga menjadi pemicu alamiah daun tanaman padi berubah warna kuning di area persawahan Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan.

Pemilik jasa pengiriman beras, Musammil, warga Desa Tanagurah Barat, Kecamatan Sepulu mengungkapkan, kondisi cuaca yang tidak menentu tidak saja berpengaruh terhadap tanaman padi namun juga terhadap kondisi kesehatan warga.

“Kemarin Hari Sabtu, siang hujan diselingi terik panas dan gerah, hujan juga lenjut di malam hari. Kalau sektor pertanian tidak terlalu berpengaruh, cuma ma tanam padi lebih bagus tahun lalu karena daun padi sekarang tampak berwarna kuning. Banyak juga warga dilanda batuk karena musim pancaroba, cuaca tidak menentu,” singkat Musammil