www.peristiwaJatim.com.ǁSampang,30 Juli 2026-Pemerintah Kabupaten Sampang, Madura, memasang target ambisius pada sektor pergaraman tahun 2026, Kamis (30/7/2026).
Produksi garam rakyat ditargetkan menembus 325 ribu ton, didorong kondisi cuaca yang mulai stabil dan dinilai ideal untuk proses kristalisasi.
Namun, di balik optimisme tersebut, petani masih dibayangi anjloknya harga jual hasil panen.
Kepala Bidang Budi Daya dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sampang, M Mahfud, mengatakan target tersebut ditopang oleh lahan tambak garam seluas sekitar 3.200 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir.
Kondisi cuaca dibanding beberapa bulan sebelumnya menjadi modal utama untuk meningkatkan produktivitas garam pada musim panen tahun ini.
“Kondisi cuaca yang mulai stabil diharapkan mampu mendukung proses produksi sehingga target tersebut bisa tercapai,” ujarnya.
Mahfud mengakui sebagian lahan tambak garam di Kabupaten Sampang telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.
Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan optimisme pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi.
Saat ini, stok garam yang tersedia tercatat sekitar 42 ribu ton.
“Tentu kami berharap hasil produksi sepanjang musim kemarau mampu memenuhi target yang telah ditetapkan,” harapnya.
Jaga Stabilitas Harga Garam
Di sisi lain, harapan peningkatan produksi belum sejalan dengan kesejahteraan petani.
Mohdi, petani garam asal Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, Sampang, mengungkapkan, harga garam kualitas 1 masih berada di angka Rp50 ribu per sak dengan berat 70 kilogram.
Menurutnya, pendapatan petani semakin tergerus karena masih harus menanggung biaya distribusi.
“Dari harga itu masih dipotong ongkos angkut Rp10 ribu per sak, sehingga yang kami terima tinggal sekitar Rp40 ribu,” keluhnya.
Mohdi berharap pemerintah tidak hanya fokus mengejar peningkatan produksi, tetapi juga hadir menjaga stabilitas harga garam rakyat agar petani memperoleh keuntungan yang layak.
“Rendahnya harga jual yang dibarengi tingginya biaya angkut masih menjadi persoalan utama yang membebani petani,” pungkasnya.
