Kisah Sikap Istiqomah Syaikhona Kholil Bangkalan, Ayomi Masyarakat hingga Isyarat Berdirinya NU

www.peristiwaJatim.com.ǁBangkalan,23 Agustus 2026-NU dan Syaikhona Mohammad Kholil memang tidak dapat dipisahkan.

Sosok ulama tersohor Tanah Air sekaligus Pahlawan Nasional, Syaikhona Mohammad Kholil atau Mbah Kholil asal Kota Bangkalan, tidak lepas dari sejarah panjang berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU).

Meski tidak memiliki peran teknis, namun pesan spiritual Mbah Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari melalui sebuah tongkat dan tasbih di tahun 1925, menjadi pelecut semangat para muassis untuk mendirikan jam’iyyah ulama yang akhirnya diberi nama NU di tahun  1926.

Di usia 1 abad atau 100 tahun, NU akan menggelar Muktamar Ke-35 yang digelar di Lapangan Untung Suropati, Desa Tambak Rejo, Kabupaten Jombang selama lima hari, 27-31 Agustus 2026.

Gelaran forum tertinggi NU itu untuk mengevaluasi kinerja pengurus, menyusun program kerja baru, membahas masalah keagaman dan kebangsaan, serta memilih pimpinan tertinggi organisasi seperti Rais ‘Aam dan Ketua PBNU.

Tokoh NU Bangkalan sekaligus Rois Syuriyah PBNU, KH Imam Buchori Cholil mengungkapkan, sikap dari Mbah Kholil yang perlu diteladani adalah keistiqomahan, bahwa seorang ulama harus memiliki sikap istiqomah. Baik secara individu atau pribadi hubungannya dengan Allah SWT secara ritual peribadatan, juga memiliki keistiqomahan di dalam keilmuan.

“Bahwa ilmu yang dimiliki harus benar-benar disampaikan kepada masyarakat untuk mengayomi masyarakat dan mengarahkan masyarakat ke jalan-jalan ridhonya Allah. Memiliki keistiqomahan itu, bagaimana menjaga hubungan sesama manusia, sesama mahluk Allah, dan sesama umat Islam,” ungkap Kyai Imam, Rabu (29/7/2026).

Sikap istiqomah dari Mbah Kholil telah melahirkan banyak kyai besar di Nusantara. Salah satunya adalah pengasuh pertama Ponpes Tebuireng, Jombang sekaligus pendiri jam’iyyah NU, KH Hasyim Asy’ari.

“Jadi Mbah Kholil konsisten menjaga Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Basyariah, bahkan Ukhuwah Kauniyah. Saya kira itu yang perlu ditauladani dari sang Maha Guru Mbah Kholil,” tegas salah satu dzurriyah Mbah Kholil itu sekaligus pengusuh Ponpes Ibnu Cholil Bangkalan.

Dekat dengan Seluruh Lapisan Masyarakat

Ukhuwah Islamiyah merupakan jalinan persaudaraan sesama umat Islam karena persamaan akidah, iman, dan islam. Tanpa ada sekat karena perbedaan suku, ras, warna kulit, atau bangsa.

Ukhuwah Wathaniyah adalah ikatan persaudaraan sebangsa dan setanah air. Ukhuwah Basyariyah merupakan konsep persaudaraan antarsesama manusia secara universal yang didasarkan pada nilai kemanusiaan. Tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, atau golongan.

Sementara Ukhuwah Kauniyah merupakan konsep persaudaraan atau kebersamaan sesama mahluk ciptaan Allah SWT di alam semesta yang meliputi hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitar.

“Mbah Kholil memiliki keistiqomaan di keilmuan, kalau urusan ibadah dan karomah sudah tidak diragukan lagi. Namun yang mungkin banyak belum diketahui bahwa beliau sangat istiqomah dalam keilmuan,” jelas Kyai Imam.

Salah satu contoh, lanjutnya, Mbah Kholil menulis tangan Al Quran, menulis Nadhom Alfiah, serta menyusun beberapa literatur keilmuan yang saat ini sudah banyak dimunculkan oleh para dzurriyah yang aktif di turos ilmi atau khazanah kelilmuan, literatur klasik Islam karya Mbah Kholil.

“Mbah Kholil juga dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan masyarakat. Selain mendidik para santri di pesantren, beliau juga sering terjun ke masyarakat di seputaran Bangkalan. Tidak pandang bulu, baik itu mayarakat kalangan bawah maupun pejabat pemerintahan saat itu,” terang Kyai Imam.

Peran Mbah Kholil pada Lahirnya NU

Mbah Kholil lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 1835 Masehi. Setahun sebelum berdirinya NU, Mbah Kholil wafat, tetaptnya pada 29 Ramadhan 1343 H atau di tahun 1925 Masehi.

Mbah Kholil telah melahirkan banyak kyai besar di Nusantara. Seperti pengasuh pertama Ponpes Tebuireng, Jombang sekaligus pendiri Jam’iyyah NU, KH Hasyim Asy’ari (1871-1947). Berdirinya NU di tahun 1926, tidak lepas dari peran spiritual Mbah Kholil.

Selain Kyai Hasyim yang merupakan kakek dari Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, murid-murid Mbah Kholil yang mahsyur lainnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) pendiri Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, KH Bisri Syamsuri (1887-1980) pendiri Ponpes Mamba’ul Ma’arif Jombang, KHR As’ad Syamsul Arifin (1897-1990) pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Situbondo.

Kyai Imam memaparkan, Mbah Kholil memang dididik dan dipersiapkan sekaligus diamanatkan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani, guru Mbah Kholil di Kota Makkah, untuk mempersiapkan para kader di Indonesia yang mempunyai wawasan kebangsaan sehingga bisa lepas dari cengkeraman penjajah Belanda.

Proses berdirinya NU, lanjutnya, tidak berlangsung singkat. Jauh sebelum NU dideklrasikan pada 1926, persiapan-persiapan telah dilakukan Kyai Hasyim, Kyai Wahab, Kyai Bisri Syamsuri, KHR  Asnawi Kudus, dan para muassis NU lainnya.

“Mbah Kholil memang tidak berperan aktif. Namun spirit berdirinya Jam’iyah NU tidak lepas dari Hadratus Syaikhona Mohammad Kholil bin Abdul Latif. Sebagai maha guru, pemikiran dan pendapat Mbah Kholil sangat diperhatikan para murid seperti Kyai Hasyim dan Kyai Wahab Chasbullah,” papar Kyai Imam.

Rapat Pembentukan Jam’iyyah Ulama di Bangkalan

Sebelum NU berdiri dan belum muncul nama NU, masyaikh yang terdiri dari Kyai Hasyim, Kyai Wahab, Kyai Bisri Syamsuri, KHR  Asnawi Kudus, dan para muassis NU lainnya,   bertekad mendirikan jam’iyyah atau organisasi para ulama, di tengah maraknya aliran yang masuk ke bumi Nusantara pada masa itu.

“Maka masyaikh itu matur ke Mbah Kholil di Bangkalan. Salah satu lokasi rapat di Pesantren Jengkebuan, Kota Bangkalan yang diasuh oleh menantu keponakan Mbah Kholil, yakni KH Muntaha atau dikenal dengan Bindoro Muntaha,” papar tutur Kyai Imam.

Kyai Imam menyampaikan, ketika rapat yang membicarakan rencana pendirian organisasi ulama itu, Mbah Kholil mengirimkan sebuah pesan berupa penggalan Surat As-Saff ayat 8:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

(Yuriduna liyutfi’u nurullahi bi’afwahihim wallahu mutimmu nurihi walah karihal kafirun). Sebagai landasan pemikran dari para ulama bahwa pentingnya untuk menjaga akidah keislaman, khususnya yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Berselang beberapa waktu kemudian, pada 1925, masyaikh juga kembali ingin meminta restu kepada Mbah Kholil. Lagi-lagi yang diutus adalah Bindoro Muntaha,” kata Kyai Imam.

Jawaban Mengejutkan dan Kriteria Ulama Bagi Mbah Kholil

Di tengah masyaikh menunggu kepastian restu, Mbah Kholil melontarkan jawaban yan cukup mengejutkan. Sebuah jawaban yang memantik segudang pertanyaan dalam benak masyaikh, ‘Gi’ bede ulama e jebeh?’ (Apa masih ada yang bernama ulama di Jawa sekarang?).

“Ini sebuah pertanyaan yang perlu kita kaji bahwa demikian ketatnya Mbah Kholil berkaitan kriteria para ulama,” tegas Kyai Imam.

Pernyataan Mbah Kholil itu, lanjut Kyai Imam, menegaskan bahwa tidak semua yang bersorban, tidak semua yang berjanggut, tidak semua yang pegang tasbih otomatis disebut ulama.

“Kriteria ulama ini cukup ketat, ini sebuah pesan dari Mbah Kholil bahwa kita jangan terlalu gampang menyebut kita ulama atau semacamnya. Tapi harus dilihat dari kapasitasnya, baik itu kapasitas kepribadian, kapasitas sosial kemasyarakatan, dan kapasitas sosial keilmuan,” papar Kyai Imam.

Mbah Kholil Utus Santri Muda As’ad Samsul Arifin 

Kemudian tidak berselang lama, Mbah Kholil mengutus santri muda kala itu yang kemudian dikenal dengan Hadrutussyaikh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Situbondo untuk mengantarkan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari di tahun 1925.

“Dengan pesan ayat Surat Thaha, Wa ma tilkah biyaminika yaa musa, kemdudian dengan dzikir Asmaul Husna, yaa Qohhar yaa Jabbar. Nah ketika pesan ini disampaikan santri Kyai As”ad muda kepada Mbah Hasyim, maka Mbah Hasyim langsung mengatakan alhamdulilah restu dari sang maha guru sudah tiba,” jelas Kyai Imam.

Dengan begitu, persiapan-persiapan pendirian jam’iyyah ulama semakin intensif. Ketika Mbah Kholil wafat di tahun yang sama, yakni 1925, maka setahun kemudian jam’iyyah ulama dideklarasikan dengan nama NU.

Kyai Imam menambahkan, proses dan peran Mbah Kholil terhadap berdirinya Jam’iyyah NU memang bukan peran teknis tetapi merupakan peran spiritual. Peran semangat bahwa mendirikan sebuah organisasi ulama bukan main-main.

“Ini pekerjaan beesar dan mempunyai efek yang besar pula. Maka harus benar-benar hati-hati dan ketika semuanya sudah siap, Mbah Kholil memberikan restu dan izin. Maka persiapan-persiapan teknis dilakukan masyaikh, para muassis atau pendiri Jam’iyyah NU,” pungkas Kyai Imam.