www.peristiwaJatim.com.ǁSampang,24 Agustus 2026-Persoalan keterbatasan armada menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Sampang dalam memenuhi kebutuhan air bersih warga yang terdampak kekeringan.
Di tengah meluasnya wilayah yang membutuhkan bantuan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang hanya mengandalkan dua unit mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih harus dilakukan secara bergantian. Terlebih, BPBD mencatat sebanyak 12 kecamatan masuk kategori kering kritis dengan 78 desa menjadi prioritas penyaluran air bersih.
Upaya mempercepat distribusi juga menghadapi persoalan waktu. Penyaluran yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Agustus 2026 kini ditargetkan baru dimulai pada akhir Agustus.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sampang, Fajar Arif Taufikurrahman, mengatakan keterbatasan armada menjadi salah satu kendala utama dalam mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat.
“Saat ini BPBD Sampang memiliki dua unit mobil tangki dan satu unit tangki lagi milik PDAM yang juga disiapkan untuk membantu distribusi,” ujarnya.
12 Kecamatan Masuk Kategori Kering Kritis
Dengan dua armada milik BPBD dan satu armada dari PDAM, pemerintah daerah harus mengatur pola distribusi agar bantuan dapat menjangkau desa-desa yang telah ditetapkan sebagai wilayah prioritas.
Cakupan wilayah yang cukup luas membuat kemampuan armada yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Akibatnya, penyaluran air bersih belum dapat dilakukan secara optimal.
BPBD Sampang mencatat terdapat 12 kecamatan yang masuk kategori kering kritis. Dari jumlah tersebut, sebanyak 78 desa menjadi prioritas penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah harus melakukan pengaturan distribusi secara bergantian. Armada yang terbatas harus digunakan untuk melayani sejumlah wilayah secara bergilir.
Gandeng Penyedia Tangki Air Lokal
Untuk mengatasi keterbatasan armada, BPBD Sampang berupaya menggandeng penyedia jasa tangki air lokal.
Langkah tersebut ditempuh untuk memperluas jangkauan distribusi air bersih tanpa hanya mengandalkan kendaraan tangki milik pemerintah daerah.
Selain menggandeng penyedia jasa tangki air, BPBD juga tengah memproses kerja sama dengan PDAM terkait pengadaan air bersih yang nantinya disalurkan kepada masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menambah kapasitas distribusi sehingga kebutuhan air bersih warga di sejumlah desa prioritas bisa lebih cepat terpenuhi.
Fajar mengakui jumlah armada yang tersedia saat ini masih belum sebanding dengan luas wilayah yang membutuhkan bantuan.
“Anggaran dan armada yang tersedia belum cukup memenuhi kebutuhan warga di seluruh wilayah terdampak kekeringan,” pungkasnya.
Siapkan Anggaran Rp75 Juta
Untuk mendukung penanganan kekeringan tahun ini, BPBD Sampang telah menyiapkan anggaran sebesar Rp75 juta.
Anggaran tersebut menjadi salah satu dukungan pemerintah daerah dalam penanganan dampak kekeringan, termasuk upaya penyediaan dan distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dengan cakupan 78 desa di 12 kecamatan yang masuk prioritas, keterbatasan armada menjadi pekerjaan penting yang perlu segera diatasi agar penyaluran bantuan air bersih dapat menjangkau lebih banyak warga terdampak.
