www.peristiwaJatim.com.ǁSumenep,13 Februari 2026-Tradisi Nyadar atau Nadar masih lestari di tengah masyarakat Desa Pinggir Papas dan Kebundadap Barat, Kabupaten Sumenep, Madura.
Upacara adat yang digelar tiga kali setiap tahun ini menjadi penanda musim panen garam sekaligus bentuk rasa syukur para petani atas hasil yang diperoleh.
Nyadar dilaksanakan berselang sekitar satu bulan pada setiap tahapannya.
Tradisi ini erat kaitannya dengan sosok Syekh Angga Suto atau Emba Anggasuto, tokoh yang diyakini sebagai penyebar Islam sekaligus orang pertama yang mengajarkan cara mengolah garam kepada masyarakat setempat.
istilah Nyadar berasal dari bahasa Arab “Nadzar” yang berarti melepas niat.
Dalam konteks masyarakat petani garam, makna tersebut dimaknai sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan mengelola tambak garam sebagai mata pencaharian utama.
Jejak Sejarah dan Legenda Garam
Sejarah Nyadar tidak bisa dilepaskan dari kisah Syekh Angga Suto.
Diceritakan, ia datang dari Timur Tengah dan sempat singgah di Cirebon sebelum akhirnya menetap di wilayah pesisir Sumenep untuk berdakwah.
Saat berada di sekitar pantai Pinggir Papas, ia menyaksikan fenomena unik ketika air laut surut.
Dalam laporan Kompas.com menyebutkan, bekas telapak kaki besar yang dilihatnya perlahan berubah menjadi gumpalan garam.
Sejak peristiwa itu, Syekh Angga Suto mengajarkan teknik pembuatan garam kepada warga setempat.
Sementara itu, berdasarkan penuturan sesepuh, setiap langkah kaki Syekh Angga Suto diyakini berubah menjadi garam.
Tanah yang diinjaknya pun menghasilkan butiran garam yang melimpah.
Kisah tersebut semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa Tradisi Nyadar merupakan warisan spiritual sekaligus sejarah.
Adapun dalam, Nyadar juga disebut sebagai upacara tradisional yang telah dikenal lama masyarakat setempat dan lebih populer dengan sebutan “hari raya” oleh warga Pinggir Papas dan Kebondadap.
Rangkaian Prosesi Sakral
Pelaksanaan Nyadar pertama dan kedua dipusatkan di area makam atau bujuk Gubang, yang meliputi Makam Syekh Angga Suto, Syekh Kabasa, Syekh Dukun, dan Syekh Bangsa di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep.
Ribuan warga datang membawa makanan dalam wadah yang disebut panjang, berisi nasi dan lauk-pauk.
Doa bersama dipanjatkan di bawah pohon asam besar di sekitar makam.
Setelah itu, makanan disantap bersama dalam prosesi yang dikenal sebagai kauman, yakni makan secukupnya sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Nyadar ketiga memiliki perbedaan.
Jika dua tahap awal diisi ziarah makam, tahap terakhir digelar di Desa Pinggir Papas tanpa prosesi ziarah.
Pada malam harinya, warga membacakan naskah kuno atau layang dalam bentuk tembang macapat, seperti kisah Jatiswara dan Sampurnaning Sembah, yang sarat nilai spiritual.
Keesokan paginya dilaksanakan rasulan, yakni doa bersama atas hidangan yang dibawa warga, kemudian disantap secara bersama-sama.
Dalam tradisi lama yang dicatat Disperpusip Jatim, sisa nasi dari prosesi Nyadar tidak dibuang, melainkan dijemur dan disimpan.
Nasi kering tersebut kemudian dicampurkan sedikit demi sedikit saat memasak nasi sehari-hari sebagai simbol berkah dan harapan keberlanjutan rezeki.
Wujud Syukur dan Syiar Islam
Selain menjadi ungkapan terima kasih kepada leluhur dan Syekh Angga Suto, Nyadar juga menjadi sarana syiar Islam.
Pembacaan doa, zikir, serta naskah-naskah bernuansa religius menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.
Tradisi ini hingga kini tetap dijaga oleh masyarakat setempat, khususnya para petani garam, sebagai identitas budaya sekaligus pengikat kebersamaan.
Di tengah modernisasi, Nyadar tetap berdiri sebagai simbol harmoni antara sejarah, kepercayaan, dan kehidupan ekonomi warga pesisir Sumenep.
