Pupuk Bersubsidi di Sumenep Baru Terserap Sebagian Kecil, Petani Tunggu Musim Hujan
www.peristiwaJatim.com.ǁSumenep,11 September 2025-Serapan pupuk bersubsidi di Kabupaten Sumenep, Madura hingga triwulan kedua 2025 tercatat masih rendah.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menunjukkan, pupuk urea baru terserap 7.480,25 ton, masih menyisakan 31.500,75 ton.
Pupuk jenis NPK terserap 4.877,97 ton, tersisa 25.634,03 ton.
Sedangkan pupuk organik baru terserap 124.829 ton, dengan sisa 1.212.171 ton.
Staf Bidang Penyuluhan DKPP Kabupaten Sumenep, Musahaeri menyebut salah satu penyebab rendahnya serapan karena petani masih menunggu musim hujan sebelum melakukan penebusan.
“Setelah memasuki musim penghujan, petani biasanya mulai menebus pupuk,” tuturnya pada Kamis (11/9/2025).
Musahaeri merinci, serapan urea tertinggi berada di Kecamatan Guluk-Guluk dan terendah di Sapeken.
Untuk NPK, serapan tertinggi di Kecamatan Bluto, sedangkan yang terendah tetap di Pulau Sapeken.
“Khusus pupuk organik, hanya diajukan empat kecamatan.”
“Serapan tertinggi ada di Kecamatan Pasongsongan dan terendah di Kecamatan Dungkek,” sebutnya.
Ia menegaskan, pupuk bersubsidi hanya bisa diakses untuk 10 komoditas, yakni padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kopi, cokelat, tebu rakyat, dan ketela.
Terpisah, Kabag Perekonomian dan SDA Setkab Sumenep Dadang Dedy Iskandar mengatakan Pemkab telah membentuk tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) untuk memperketat distribusi pupuk bersubsidi.
“KP3 ini gabungan dari pemkab, Polri, TNI, kejaksaan, dan DPRD Sumenep.”
“Tugasnya melakukan pengawasan, evaluasi, pembinaan distributor dan kios pupuk, serta menindaklanjuti jika ada penyimpangan,” terang Dadang Dedy Iskandar.

