www.peristiwaJatim.com.ǁBangkalan,9 Juli 2026-Di tengah sorotan publik dan keluarga atas lambannya ungkap kasus kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemkab Bangkalan Madura, Ruly Yunis Setiawati (50), beredar video berdurasi 40 detik tentang sosok terduga pelaku pembunuhan, yakni Erlan saat berada di dalam sebuah mobil.
Erlan yang mengenakan kacamata minus tampak menikmati perjalanan tol, ditemani dua orang pria; satu orang sopir dan seorang pria lainnya mengabadikan momen perjalanan itu dari kursi penumpang depan sisi kiri melalui kamera video ponsel.
Erlan duduk di jok tengah penumpang seorang diri, mengenakan kaus lengan pendek berwarna biru kombinasi garis tipis berwana merah-putih yang melintang pada bagian dada.
Video itu terdiri dari tiga bagian berbeda; perjalanan dalam mobil, di sebuah kamar, dan bermain biliar.
Ketika berada dalam mobil, pria perekam video dari jok depan penumpang menjelaskan, ‘Alhamdulillah bapak, Alvin Mas’ud saya bersama Mas Wahyu, Mas Erlan guru saya ini, kami otewe Bali, nanti pulang dari Bali singgah ke pujaan hati di Malang’.
Potongan video bagian kedua disebutkan, ‘Aku sama pak bos sedang….’
Kemudian dilanjutkan dengan potongan video ketiga menyuguhkan ketika Erlan tampak lihai melakukan break shot di meja biliar.
Dikonfirmasi tentang beredarnya video tersebut, kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengungkapkan, dirinya tidak mengetahui secara pasti apakah video itu direkam sebelum atau sesudah perkara kematian Ruly yang hingga hari ke-15 masih buram tanpa pelaku.
“Padahal segala tentang sosok Erlan sudah jelas. Artinya, untuk mencari petunjuk dan informasi kira-kira ke mana saja dia sudah bisa. Bahkan informasi waktu dia (Erlan) di Bali saya dapat, hotel apa saya tahu, seperti yang ada di video itu. Tapi tidak terkonfirmasi kapan video itu diambil,” ungkap Risang, Kamis (9/7/2026).
Hasil penelusuran Risang, Erlan diketahui kelahiran Pare-pare 2 Maret 1972, mempunyai satu Nomor Induk Kepedudukan (NIK) namun dengan dua Kartu Keluarga (KK).
Pertama beralamatkan di Kompleks Komando Pertahanan (Kowilhan) 3 Mannuruki, Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan alamat kedua di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
“Tapi saya meyakini viedo (40 detik) yang ke Bali itu beberapa waktu sebelum peristiwa dengan almarhumah Ruly,” ujar Risang.
Kaus Sama
Erlan dalam video berdurasi 40 detik yang beredar, mengenakan kaus serupa dengan kaus seperti dalam video 33 detik tentang kolase foto-foto yang beredar pada Minggu (28/6/2026) sore.
Video pertama yang diunduh dari akun TikTok Ruly itu menyuguhkan kebersaman Erlan dengan Ruly di Alun-alun Kota Batu.
Video itu diunggah Ruly pada Jumat (19/6/2026) siang atau sehari sebelum mobil dinas Ruly, Toyota Innova nopol M 1090 GP terekam CCTV loket masuk parkir Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, pada Sabtu (20/6/2026) pukul 16.00 WIB.
Beberapa hari kemudian, jasad Ruly ditemukan dalam mobil dinas dengan kondisi sudah membusuk di area parkir bandara, pada Rabu (24/6/2026).
Jenazahnya dikebumikan di makam umum Kelurahan Mlajah, Bangkalan, Kamis (25/6/2026) pukul 08.00 WIB.
“Sumber awal video 40 detik itu muncul tidak ada yang tahu, bisa saja muncul dari korban lain karena banyak korban love scamming seperti Ruly, tetapi tidak sampai terbunuh. Selain spesialis love scamming, juga penipuan investasi dan proyek. Korbannya sudah belasan orang, hanya korban tidak terbunuh seperti Ruly,” papar Risang.
Love scamming merupakan modus penipuan berkedok asmara, di mana pelaku memanipulasi perasaan korban untuk mendapatkan uang atau keuntungan finansial.
Dugaan Motif
Dalam berkas hasil autopsi jasad Ruly dari RS Pusdik Bhayangkara Porong Sidoarjo yang diterima Risang Bima Wijaya menyebutkan, ditemukan luka robek pada area cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul, pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir kelopak mata, kebiruan di selaput lendir bibir bagian atas maupun bawah yang lazim pada kematian yang dipicu mati lemas.
Ada juga tanda merah kehitaman pada pemeriksaan lidah, epiglotis, dan saluran napas utama, ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia.
Diperkirakan, Ruly meninggal lebih dari 2×24 jam atau hingga tiga hari berdasarkan pemeriksaan bagian dalam.
Di area dinding lambung teridentifikasi berwarna merah kehitaman dan ditemukan tanda pembusukan pada seluruh organ tubuh.
Selain itu, hasil uji kosmalin tes pada otot tangan kanan tampak berwarna merah pucat.
Risang menduga, motif Ruly dihabisi karena pelaku ingin menguasai harta korban.
“Dugaat kuat motif awal yakni menguasai harta korban, namun kenapa dibunuh? Apakah Ruly melawan atau teriak sehingga dibunuh agar tidak ketahuan?” tutur Risang.
Kepastian motif pelaku menghabisi nyawa Ruly, lanjut Risang, akan terungkap ketika pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Sidoarjo dan Jatanras Polda Jatim berhasil menangkap Erlan.
“Apakah ini pembunuhan berencana atau pembunuhan yang dilakukan secara spontan? Ada peristiwa apa sehingga Ruly harus dibunuh? Apakah Ruly melawan atau teriak sehingga dibunuh agar tidak ketahuan? Sementara korban-korban yang lain tidak dibunuh,” tegas Risang.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian itu, pihak keluarga korban disebut Risang diselimuti beragam spekulasi yang berkembang dan tidak jelas di kalangan masyarakat.
Namun dugaan sementara, jasad Ruly dibuang di badara dan ponselnya dimatikan untuk menghilangkan jejak.
“Di situlah kenapa keluarga korban mendesak lekas terungkap, karena muncul beragam spekulasi yang tidak jelas dari masyarakat. Baik dan buruknya akan diterima keluarga, dan itu bisa jelas dengan tertangkapnya Erlan,” pungkas Risang.
