Akses Sempit Menuju Sekolah, Siswa dan Guru SD di Bangkalan Jalan Kaki Jemput MBG
www.peristiwaJatim.com.ǁBangkalan,6 Februari 2026-Keterbatasan akses jalan kendaraan roda empat memaksa mobil distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kumala Bhayangkari Bangkalan berhenti sekitar 100 meter sebelum titik distribusi, yakni di SDN Langkap 5, Kecamatan Burneh, Bangkalan.
Meski demikian, penyaluran sedikitnya 87 menu MBG dalam empat hari terakhir berjalan lancar, bahkan disambut riang gembira para siswa penerima manfaat.
Suara riuh penuh riang dari puluhan siswa memecah keheningan pagi di halaman sekolah yang berbatasan langsung dengan hamparan luas area persawahan, Jumat (6/2/2026).
Kegembiraan itu hadir setelah sejumlah siswa dan guru muncul dari balik tembok sisi selatan sekolah, berjalan kaki sambil menenteng ompreng berisikan menu MBG.
Sejumlah siswa yang sedang menghabiskan waktu istirahat, kembali masuk sekolah.
Beberapa di antara siswa menapaki pematang sawah yang juga berfungsi sebagai ases untuk lalu lalang kendaraan roda dua milik para guru.
“Karena jalan masuk kecil, jadi tiap hari berjalan kaki jemput MBG, capek sih tetapi senang. Hari ini menu MBG-nya rolade, enak,” ujar siswa kelas VI SDN Langkap 5 Bangkalan, Kamelia Nurul.
Bersama SDN Langkap 2, 3, dan 4, SDN Langkap 5 baru empat hari menerima distribusi menu MBG, seiring diresmikannya SPPG Kumala Bhayangkari yang berlokasi sekitar 1 KM dari sekolah tersebut.
Selain melintasi padatnya permukiman warga, mobil SPPG Kumala Bhayangkari juga harus menyusuri hamparan luas area pertanian.
Terbuka dengan Kritik dan Saran
Mitra SPP Kumala Bhayangkari, Farhad mengungkapkan, sudah menjadi sebuah risiko ketika mendistribusikan menu MBG ke kawasan pelosok desa.
Seperti halnya ke SDN Langkap 5, Desa Burneh dengan keterbatasan akses jalan untuk kendaraan roda empat.
“Kami baru awal buka, total penerima manfaat dari dapur kami sebanyak 1.230 menu MBG meliputi empat sekolah SD, termasuk SDN Langkap 5 dengan total 87 serta B3 atau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” ungkap Fahad.
Meski tergolong SPPG baru, namun Fahad sangat terbuka kepada pihak sekolah penerima manfaat untuk aktif memberikan saran maupun kritik bersifat membangun berkaitan penyajian maupun kualitas menu MBG.
“Kami berharap setiap kepala sekolah agar mengunggah MBG yang kami distribusikan. Sehingga kalau ada menu yang harus dievaluasi, kami bisa segera melakukan evaluasi,” pungkas Fahad.

