Anang-Ashanty Dorong Semangat Adaptif Mahasiswa UTM, Prof Safi’: Pasangan Inspiratif, Haus Literasi

www.peristiwaJatim.com.ǁBangkalan,4 Oktober 2025-Ribuan mahasiswa memadati Gedung Pertemuan RP Moh Noer Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk mencermati paparan dari pasangan sukses, Anang Hermansyah, SIP dan Ashanty Hastuti, SSos, MM dalam gelaran Industri Kreatif Talk Show 2025 bertemakan, ‘Generasi Inovatif: Dari Trunojoyo Madura untuk Indonesia dan Dunia’, Jumat (3/10/2025).

Anang-Ashanti memang profil yang sangat tepat karena pasangan selebriti sekaligus pengusaha ini sedang berada di puncak kesuksesannya.

Selain di bidang hiburan khususnya musik serta bisnis kuliner, mereka juga sukses di bisnis toko kue, hingga produk kecantikan dan pakaian.

“Alhamdulillah saya anak desa dari Jember, 1500 KM dari Jakarta.”

“Tapi karya saya sudah lahir di Indonesia dan hingga hari ini masih ada berita dari Malaysia, berita dari negara-negara lain tentang lagu-lagu saya masih diputar,” ungkap Anang di hadapan mahasiswa.

Anang hijrah ke Jakarta di tahun 1990, bakat kuat di bidang musik serta bertalenta sebagai musisi dan produser membuat Anang dengan mudah berada dalam satu frekuensi bersama musisi-musisi kondang seperti Pay Burman gitaris grup band Slank.

Hanya berselang dua tahun, Anang membidani sendiri lahirnya album pertamanya berlabel ‘Biarkanlah’ bergenre hard rock yang dirilis pada tahun 1992.

Bahkan hingga saat ini, album Biarkanlah itu  masih banyak dicari melalui toko online dalam bentuk kaset maupun CD sebagai barang koleksi.

Anang menjelaskan, awalnya orang kreatif itu tidak malas karena mempunyai mimpi dan selalu berkata bisa untuk mewujudkan mimpinya.

Kata ‘bisa’ itulah yang selalu ditekankan saat dirinya menempa pendidikan di pondok pesantren, di bangku SMA bahkan saat di lingkungan pendidikan tinggi atau kampus.

“Saat kuliah saya dikasih tahu, mimpimu tinggikan supaya malaikat tahu bahwa kamu ingin jadi A B C D.”

“Setelah itu ikhtiarnya, ikhtiarnya adalah pikiran, ketika pikiran kuat insya Allah jalannya banyak, Itu tandanya bahwa bagaimana mengkombinasikan kekuatan pikiran kita sebagai mahluk Tuhan, itu yang saya pegang, diajarinya begitu.”

“Ada unsur dunia ada unsur makrifatnya,” jelas Anang.

Berbicara industri kreatif, lanjutnya, setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan sejatinya sudah kreatif karena dibekali otak.

Prinsip itulah yang selalu menjadi pegangan Anang sejak dahulu hingga saat ini bahwa setiap manusia disuruh berpikir, bahwa ketika dengan benar menggunakan pikiran mesti kreatif.

“Dengan berpikir, tidak pernah berhenti untuk mencari apa yang akan selalu hadapi, apa yang ingin dicapai.”

“Karena pada saat seseorang tidak menggunakan cara berpikirnya, pasti akan stuck (berhenti),” tegas pria kelahiran Jember pada tahun 1969 itu.

Anang menyebut, dirinya lahir bukan dari keluarga penyanyi maupun musisi.

Hanya saja, kakeknya memiliki suara yang bagus karena merupakan seorang yang mengajari orang membaca Alquran dengan cara yang indah dan terdengar nyaman di telinga.

Sementara ibunya, seorang pedagang keturunan Banjarmasin-Madura, bapaknya seorang pedagang asli keturunan Madura.

“Saya berjuang karena saya punya sesuatu yang saya suka, yaitu musik. Atau kreatif berpikir sesuatu yang unik-unik, itu yang saya suka.”

“Simple sebetulnya, cuma sekarang bagaimana kreatif yang kita lakukan itu menghasilkan, itu yang saya maknai dari zaman dahulu sampai sekarang, sesederhana itu,” pungkas Anang yang saat ini sedang menempuh Program Magister (S2) Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) di Unair Surabaya.

Seolah tidak ingin ‘disalip’ Anang, Ashanti Hastuti yang sudah bergelar Sarjana Sosial dan Magister Manajemen itu terus memperkaya literasinya melalui Program Doktoral (S3) PSDM Unair.

Bagi Ashanty, untuk belajar tidak pernah ada kata terlambat.

“Saya selalu bilang kepada anak-anak di rumah, walaupun kamu nanti akan menjadi seorang penyanyi, youtuber atau apapun yang kamu lakukan, tetap belajar dan tetap sekolah karena itu penting sekali,” tegas Ashanti yang telah dikarunia empat orang anak.

Kepada para mahasiswa UTM, Ashanti berpesan pentingnya memahami tujuan hidup masing-masing.

Hal itu untuk mengetahui kelak setelah lulus, apakah mau bekerja selaras dengan background pendidikan, atau menjadi influencer, food blogger, atau penyanyi.

“Saya lihat banyak banget Genzi (Generasi Z) yang hadir dan lagi berpikir kira-kira tujuan hidup saya apa, mungkin saat ini kalian masih gamang dengan pilihan hidup.”

“Namun kita itu harus dari usia muda sudah menentukan, kira-kira ke depan mau jadi apa yang sekiranya sesuai dengan keterampilan yang kita miliki,” pesan perempuan kelahiran Jakarta di tahun 1983 itu.

Sementara Rektor UTM, Prof Dr Safi’, SH, MH mengungkapkan, kehadiran Anang-Ashanti sebagai sosok inspiratif yang tengah berada di puncak kesuksesan namun terus mengembangkan studinya sebagai upaya memperkaya literasi.

“Itu kan luar biasa, ada beberapa orang ketika sudah sukses, lupa studinya, lupa belajar.”

“Tadi Mas Anang dan Mbak Ashanty meminta mahasiswa agar tidak tertinggal dengan dinamika perubahan yang begitu cepat, harus bisa adaptif.”

“Untuk bisa adaptif harus kaya literasi, karena itu beliau terus belajar,” ungkap Prof Safi’.

Ia berharap, mahasiswa UTM terinspirasi bahwa untuk menjadi sukses itu tidak bisa diperoleh secara instan namun melalui proses yang serius. Sehingga apa yang menjadi cita-cita mahasiswa akan tercapai.

“Kampus sekarang melalui visi Pak Menteri yang baru dengan tagline Kampus Berdampak, kampus sebagai tempat mengembangkan ilmu pengetahuan harus related dengan perkembangan dunia industri.”

“Jadi kalau kampus kuat maka industri harus kuat, termasuk di sektor industri kreatif,” pungkas Prof Safi’.