Dulu Kewalahan Layani Pesanan, Kini Penjahit di Bangkalan Cuma Terima Jahitan Seragam Batik Sekolah
www.peristiwajatim.com.ǁBangkalan,9 Juli 2025- Berkurangnya orderan menjahit seragam siswa pada masa pergantian tahun ajaran 2025/2026 sangat dirasakan Syafiuddin (51), penjahit pakaian di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Kemayoran, Kota Bangkalan.
Pergerakan jarum jahitnya pun tidak selincah tahun-tahun sebelumnya, seperti di kala pihak sekolah mewajibkan wali siswa membeli kain untuk kebutuhan pembuatan seragam sekolah siswa.
Desis suara khas dari putaran roda dan engkol pedal mesin jahit manual milik Udin, begitulah Syafiuddin biasa disapa, terdengar lirih menelusup di seluruh sudut pekarangan rumahnya, Rabu (9/7/2025).
Menjelang waktu siang, Udin sedang menyelesaikan pekerjaan menjahit kain seragam khas sekolah bermotif batik yang diterimanya mulai pekan ini.
“Alhamdulillah, ada beberapa yang sudah menjahitkan seragam. Seperti dari SMPN 1 dan SMPN 2 Bangkalan, serta ada juga seragam khas lain yaitu batik.”
“Tahun ini memang kebanyakan seragam khas,” ungkap Udin
Di tengah gerakan teratur putaran roda dan engkol pedal mesin jahit manualnya, benak bapak dengan dua orang anak itu terngiang pada masa-masa para penjahit di Bangkalan kebanjiran orderan menjahit kain seragam sekolah beberapa tahun sebelumnya.
Udin menjelaskan, para penjahit bahkan sampai merasa khawatir karena terdesak target penyelesaian menjahit kain-kain seragam sekolah.
Bahkan, beberapa penjahit terpaksa harus melempar orderan ke para penjahit lain di Surabaya.
“Karena orderan penuh, kami khawatir pekerjaan tidak selesai sesuai target.”
“Penghitungan kami, satu setel seragam sekolah harus selesai maksimal empat jam.”
“Terhitung mulai dari proses memotong kain hingga menjahit.”
“Dalam sehari saya bisa menyelesaikan tiga setel seragam sekolah, terdiri dari baju dan celana,” jelas Udin.
Tahun-tahun sebelumnya, Udin selalu menerima order menjahit untuk semua jenis seragam sekolah.
Mulai dari satu setel seragam pramuka, satu setel seragam putih biru dan abu-abu, serta satu setel seragam khas sekolah seperti batik.
“Sekarang yang dijahitkan hanya seragam batik dan seragam khas sekolah, mungkin beli seragam jadi di pasar,” terangnya.
Pria kelahiran Jember di tahun 1976 itu menggeluti usaha sebagai penjahit pakaian di Kota Bangkalan sejak tahun 2003.
Ia memberanikan diri menjadi salah seorang penjahit pakaian setelah selama 3 tahun menimba ilmu di salah satu tailor ternama di kawasan Embong Malang, Surabaya.
Selain dikenal sebagai penjahit seragam sekolah, masyarakat Kota Bangkalan juga akrab mengenalnya sebagai sosok penjahit dengan hasil yang presisi.
Para pelanggan Udin juga berasal dari kalangan PNS di lingkungan Pemkab Bangkalan hingga personel TNI/Polri.
“Saya mengawali sebagai tukang membeli benang, tukang setrika, juru ukur tubuh pelanggan dari hotel ke hotel.”
“Di situlah saya sambil belajar menjahit. Sekarang untuk urusan menyematkan kancing dan setrika, dibantu isteri,” pungkasnya.

